LEGENDA DAN SEJARAH DESA SAMBONGBANGI
Desa
Sambongbangi terletak diantara Desa
Banjardowo dan Banjarbanggi ( Desa Pandhan Harum
) yang menurut legenda
pada saat itu masih berupa
hamparan tanah dengan luas 484,790 Ha.
Pada jaman dahulu wilayah tersebut sebagai tempat untuk pertemuan (menyambung, nyambangi (jawa) antara kedua kademangan tersebut maka seiring dengan perkembangan jaman wilayah itu dinamakan Sambongbangi yang berasal dari kata nyambangi (jawa) atau menjenguk untuk menyambung tali persaudaraan. Maka terbentuk suatu ka-Demangan yang pada saat itu dipimpin seorang Demang dengan nama Ki Demang Palang I dengan wilayah kekuasaan sebagian wilayah Padhukuhan Sambongbangi, Bangi Wetan,dan Plosorejo, Sedangkan Ki Dmang Palang II memiliki wilayah sebagian Padhukuhan Sambongbangi, Belung Kulon, Belung Wetan.
Pada jaman dahulu wilayah tersebut sebagai tempat untuk pertemuan (menyambung, nyambangi (jawa) antara kedua kademangan tersebut maka seiring dengan perkembangan jaman wilayah itu dinamakan Sambongbangi yang berasal dari kata nyambangi (jawa) atau menjenguk untuk menyambung tali persaudaraan. Maka terbentuk suatu ka-Demangan yang pada saat itu dipimpin seorang Demang dengan nama Ki Demang Palang I dengan wilayah kekuasaan sebagian wilayah Padhukuhan Sambongbangi, Bangi Wetan,dan Plosorejo, Sedangkan Ki Dmang Palang II memiliki wilayah sebagian Padhukuhan Sambongbangi, Belung Kulon, Belung Wetan.
HARI
NA’AS DESA SAMBONGBANGI
Jum’at Pahing
Jum’at Pahing
Dalam
Legenda juga menceritakan wilayah
kademangan tersebut akan didatangi
para perampok dari Pati, dan
pada saat itu Ki Demang meminta bala bantun dari Ki
Ageng Langkir keturunan dari pati Penguasa
Sendang Theleng ( jawa :mata)
yang berada di
Dusun Juron Desa Pandhan Harum
untuk menumpas paraperampok tersebut. Setelah
itu Langkir bersedia membantu dan berpesan
kepada Ki Demang bahwa pada
hari itu semua warga
masyarakat (para kawula) dilarang
keluar rumah untuk
melakukan aktivitas apapun
takut apabila nanti ikut menjadi
korban amukan Ki Ageng Langkir , dalam
pertempuran melawan para perampok. Sedangkan
dalam pertempuran tersebut Ki
Ageng Langkir dapat menakhlukkan
pimpinan perampok dengan
tubuh hancur terpotong-potong
terpisah menjadi beberapa bagian ,
kepala dan isi
perut ( jawa : gembung digantung ditengah -
tengah Kademangan
sekarang menjadi Dusun Sambongbangi (Krajan)
sebagai Pusat
Pemerintahan Desa Sambongbangi,
dan Dusun Bangi
Wetan sedangkan bagian tubuh
lainnya berupa tulang ( jawa: balung ) ditanam
di empat penjuru ( jawa: Keblat papat )
sebagai tumbal batas wilayah
kademangan sekarang menjadi Dusun (Balung)
Belung Kulon dan Belung Wetan. Untuk
Mengenang Peristiwa tersebut warga masyarakat Desa Sambongbangi
Khususnya Dusun Sambongbangi (Krajan
) Pada Hari Jum’at Pahing
tidak berani melakukan aktivitas
apapun termasuk jika akan
melakukan bercocokTanam dan lain-lain, apabila ada orang yang menentang maka
orang tersebut akan mengalami musibah atau petaka.
Pada
masa itu Pemerintahan Indonesia
sendiri masih dipimpin seorang
perempuan dari Belanda dengan nama HEL-MEINA.
Adapun setelah itu kedua
Ka-Demangan tersebut bergabung menjadi satu dengan Nama
Desa Sambongbangi yang terbagi 4 (empat ) wilayah yaitu :
Dusun
Sambongbangi ( Krajan ) sebagai pusat
Pemerintahan Desa
Dusun Belung Kulon.
Dusun Belung Wetan.
Dusun
Bangi Wetan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar